Perkebunan teh Kaligua merupakan warisan pemerintahan kolonial Belanda yang terletak di lereng sebelah barat kaki gunung Slamet, di desa Pandansari, Kec. Paguyangan, Kab. Brebes, Jawa Tengah Pabrik dibangun pada tahun 1889 untuk memproses langsung hasil perkebunan menjadi teh hitam. Kebun ini dikelola oleh warga Belanda bernama Van De Jong dengan nama perusahaan Belanda John Fan & Pletnu yang mewakili NV Culture Onderneming.
Pada saat pembanguan pabrik tahun 1901, para pekerja membawa ketel uap dan mesin pengolahan lainnya dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas untuk menghilangkan rasa capai. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua pada tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut
Dalam perjalanan sesuai dengan kondisi sosial politik dan ekonomi Indonesia serta adanya gejolak perang dunia ke-2 tahun 1942 sampai diakuinya kedaulatan Republik Indonesia sampai dengan sekarang kebun Kaligua mengalami beberapa pergantian nama dan pengelolaannya, yaitu :
Periode Pengelola
1942-1948
Kebun Kaligua diambil alih oleh Jepang, banyak tanaman teh yang rusak dan diganti dengan aneka tanaman pangan
1951-1957 Dikelola perusahaan swasta dari Tegal, tetapi tidak dirawat karena adanya gangguan keamanan berupa pemberontakan DI/TII
1958-1964 Dikelola KODAM VII Diponegoro bekerja sama dengan PT. Sidorejo Brebes dengan hasilnya 90 % untuk ekspor dan 10% untuk lokal
1964-1968 Dikelola oleh Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) aneka tanaman yang berkantor pusat di Semarang
1968-1972 Tanggal 16 April 1968 berubah nama menjadi PPN XVIII
1972-1975 Dengan PP No. 23 tahun 1972 PPN XVIII berubah nama menjadi PTP XVIII (Persero)
1995 Kebun Kaligua digabung dengan kebun Semugih (Kab. Pemalang) dan kantor adminstrasinya berkedudukan di Semugih
1996 Melalui restrukturisasi perkebunan-perkebunan Negara yang tertuang dalam PP No. 14 tahun 1996 tanggal 15 Pebruari 1996, pengelolaan Kebun Semugih Kaligua yang berada di bawah naungan PTP XVIII Persero) dirubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) yang berkantor pusat di Surakarta
1999 sampai sekarang Dengan SK Direksi No. PTPN IX.0/SK/149/1999.SM tanggal 1 Juli 1999 kebun Kaligua dipisah kembali dengan kebun Semugih dan pengelolaannya berdiri sendiri dengan pimpinan seorang Administratur.
Kantor pusat berada di 2 tempat, yaitu
1. Divisi Tanaman Tahunan Jl. Mugas Dalam (Atas) Semarang
2. Divisi Tanaman Semusim Jl. Ronggowarsito No. 164 Surakarta
Tuesday, March 17, 2009
Monday, March 16, 2009
Amirilis Kado Romantis dari Kaligua
Amarilis Kado Romantis dari Kaligua
MENANAM tanaman hias menjadi hobi para ibu-ibu di Desa Pandansari, Kalikidang, Taman dan Kaligua, Labupaten Brebes, Jawa Tengah. Terutama mereka yang tinggal di kanan-kiri jalan menuju obyek wisata agro di sekitar Perkebunan Teh Kaligua Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.
“Semula menanam tanaman hias sekedar hobi, kini dijadikan penghasilan tambahan,” kata ibu rumah tangga yang rumahnya berada di sebelah kiri sebelum pos penjagaan pintu gerbang perkebunan Teh Kaligua, Suwi (36) Minggu (14/10).
Menurut Suwi, para pengunjung dari luar daerah sepulang dari Kaligua banyak yang membeli tanaman hias buat oleh-oleh. Di halaman rumahnya banyak terdapat tanaman hias seperti papirus, cemara balon, cemara pinus, lantana, tapak dara dan amarilis. “Pada bulan Oktober ini, amarilis lagi musim berkembang. Banyak para cowok yang membeli amarilis buat ceweknya,” tutur Suwi.
Amarilis termasuk jenis bunga bakung yang sama-sama termasuk suku Amaryllidaceae. Amarilis memiliki mahkota yang cantik dalam warna cerah dan menawan. Dibanding bunga bakung, amarilis bentuknya lebih indah, karena memiliki detail warna terang disertai degradasi warna lain di setiap kelopaknya bagaikan lukisan abstrak. Keelokan amarilis dapat dilihat dari komposisi daun yang berhadapan bagaikan kipas. Sedangkan bunganya berbentuk terompet berbibir enam. Warna bunganya beraneka ragam. Ada amarilis merah darah, merah tua, putih bercorak garis merah, ungu, kuning markonah dan merah muda. Tangkai perbungaannya berongga, muncul dari umbi. Tiap perbungaan terdiri dari 2-6 kuntum yang mekar serentak.
Media tanaman sangat memudahkan bagi penggemar tanaman hias. Karena dapat ditanam di perkarangan maupun di dalam pot bunga. Keuntungan jika ditanam di dalam pot, selagi berbunga bisa dipajang di dalam ruangan. Kini bunga yang berasal dari Amerika Selatan ini banyak dijumpai di pekarangan penduduk Kaligua dan sekitarnya. Pembudidayaan amarilis juga tergolong mudah. Karena bisa dibiakkan melalui biji, umbi anak dan umbi induk.
Penanaman di dalam pot sebaiknya menggunakan media campuran tanah dengan humus dengan perbandingan 3:1. Setelah ditanam hendaknya pot diletakkan di tempat teduh atau di bawah naungan dan jangan sampai kena hujan. Penyiraman dilakukan seperlunya saja. Pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk cair yang dapat dikerjakan 2 kali seminggu.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbunga setelah 2-3 tahun. Tanaman berasal dari umbi anak dalam jangka satu tahun telah menghasilkan bunga. Sedangkan tanaman yang berasal dari umbi induk dapat berbunga salam waktu dua bulan.
Harga di tempat penjualan bunga, satu potnya berkisar Rp 40.000. Sedangkan para pengunjung wisata Perkebunan Teh Kaligua bisa membeli kepada penduduk setempat cukup dengan uang Rp 20.000 perpotnya (hamidinkrazan)http://atisaduso.blogspot.com/2008/09/amirilis-kado-romantis-dari-kaligua.html
MENANAM tanaman hias menjadi hobi para ibu-ibu di Desa Pandansari, Kalikidang, Taman dan Kaligua, Labupaten Brebes, Jawa Tengah. Terutama mereka yang tinggal di kanan-kiri jalan menuju obyek wisata agro di sekitar Perkebunan Teh Kaligua Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.
“Semula menanam tanaman hias sekedar hobi, kini dijadikan penghasilan tambahan,” kata ibu rumah tangga yang rumahnya berada di sebelah kiri sebelum pos penjagaan pintu gerbang perkebunan Teh Kaligua, Suwi (36) Minggu (14/10).
Menurut Suwi, para pengunjung dari luar daerah sepulang dari Kaligua banyak yang membeli tanaman hias buat oleh-oleh. Di halaman rumahnya banyak terdapat tanaman hias seperti papirus, cemara balon, cemara pinus, lantana, tapak dara dan amarilis. “Pada bulan Oktober ini, amarilis lagi musim berkembang. Banyak para cowok yang membeli amarilis buat ceweknya,” tutur Suwi.
Amarilis termasuk jenis bunga bakung yang sama-sama termasuk suku Amaryllidaceae. Amarilis memiliki mahkota yang cantik dalam warna cerah dan menawan. Dibanding bunga bakung, amarilis bentuknya lebih indah, karena memiliki detail warna terang disertai degradasi warna lain di setiap kelopaknya bagaikan lukisan abstrak. Keelokan amarilis dapat dilihat dari komposisi daun yang berhadapan bagaikan kipas. Sedangkan bunganya berbentuk terompet berbibir enam. Warna bunganya beraneka ragam. Ada amarilis merah darah, merah tua, putih bercorak garis merah, ungu, kuning markonah dan merah muda. Tangkai perbungaannya berongga, muncul dari umbi. Tiap perbungaan terdiri dari 2-6 kuntum yang mekar serentak.
Media tanaman sangat memudahkan bagi penggemar tanaman hias. Karena dapat ditanam di perkarangan maupun di dalam pot bunga. Keuntungan jika ditanam di dalam pot, selagi berbunga bisa dipajang di dalam ruangan. Kini bunga yang berasal dari Amerika Selatan ini banyak dijumpai di pekarangan penduduk Kaligua dan sekitarnya. Pembudidayaan amarilis juga tergolong mudah. Karena bisa dibiakkan melalui biji, umbi anak dan umbi induk.
Penanaman di dalam pot sebaiknya menggunakan media campuran tanah dengan humus dengan perbandingan 3:1. Setelah ditanam hendaknya pot diletakkan di tempat teduh atau di bawah naungan dan jangan sampai kena hujan. Penyiraman dilakukan seperlunya saja. Pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk cair yang dapat dikerjakan 2 kali seminggu.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbunga setelah 2-3 tahun. Tanaman berasal dari umbi anak dalam jangka satu tahun telah menghasilkan bunga. Sedangkan tanaman yang berasal dari umbi induk dapat berbunga salam waktu dua bulan.
Harga di tempat penjualan bunga, satu potnya berkisar Rp 40.000. Sedangkan para pengunjung wisata Perkebunan Teh Kaligua bisa membeli kepada penduduk setempat cukup dengan uang Rp 20.000 perpotnya (hamidinkrazan)http://atisaduso.blogspot.com/2008/09/amirilis-kado-romantis-dari-kaligua.html
Baca Puisi di Kebun Teh pada Ketinggian 2000 M DPL
DUA Pegawai Negeri Sipil, Begawan Tegalan Lanang Setiawan, dan seorang wartawan, Sabtu (14/3) kemarin bikin sensasi yang unik dengan melakukan pembacaan puisi Tegalan. Empat pembaca masing-masing Kepala Seksi Kemitraan Dishubkominfo, Atmo Tan Sidik, Agus Siswanto, dan seorang wartawan dari harian di Jawa Tengah, Bayu Setiawan. Mereka melakukan hal tersebut dalam rangkaian acara pesta rakyat Kumpul Bareng Warga Kaligua PTPN IX. Acara dipusatkan di Wisata Agro Kebun Teh Kaligua, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes.
Ketika panitia mempersilakan mereka untuk naik panggung membacakan puisi, ketiganya menolak. Mereka bersepakat melakukan aksi pembacaannya bukan di atas pentas melainkan memilih tempat lain. Mereka kemudian diangkut menggunakan mobil, menuju perkebunan teh pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan air laut yang dilarbelakangi panorama hijau berbalut halimun. Di tengah perjalanan, budayawan pantura Atmo Tan Sidik meminta mobil berhenti. Kabut putih menderas mengepung kawasan perbukitan. Atmo turun dan melangkah berbaur dengan para pemetik teh yang bercaping. Tak lama, dari mulutnya meluncur bait-bait puisi Nranggèh Katuranggan karya Wakil Walikota Tegal, Dr. Maufur. Mendengar ada orang membaca puisi, para pemetik teh sejenak menghentikan kegiatan.
“Ada apa sih mas? Kok berteriak di kebun teh?” tanya seorang pemetik.
“Baca puisi, syair bu,” bu Yayu, staf dari Dishubkominfo yang turut dalam perjalanan budaya itu menjelaskan. Para pemetik teh baru menyadari. Tapi agaknya rona wajah mereka berseri-seri melihat orang kota bersyair.
Lain lagi yang dilakukan oleh Bayu Setiawan. Dia memilih melakukan pembacaan puisinya bukan di hamparan kebun teh, melainkan di antara derasnya pancuran Tuk Bening. Kami terpaksa mendaki lebih jauh lagi dengan jalan berkelok-kelok namun keindahan obyek wisata Kaligula mengepung. Selepas mata memandang kehijauan dan kabut menutup lembah bagai lautan menghampar.
Tepat di antara pancuran Tuk Bening, Bayu melepaskan sepatu dan menggulung celana panjangnya. Dengan tanpa menggunakan teks, dia kemudian membacakan salah satu puisi Tegalan berjudul Ngertia Maring Enyong. Usai pembacaan mereka, kini giliran Agus Siswanto salah satu PNS dari Staf Dishubkominfo. Kali ini, Agus pun tak mau kalah. Dia memilih tempat pembacaan di pintu gerbang masuk Goa Jepang. Pembacaan Agus lebih heboh lagi, karena selain ditonton oleh karyawan dari PTPN IX Kaligula, puluhan anak pelajar SMKN Tonjong yang tengah santai-santai di gazebo, turut bergabung menyaksikan pembacaan Agus membawakan puisi berjudul Sing Nggo Tuku Sing Langka karya Atmo Tan Sidik. Terakhir adalah Begawan Tegalan Lanang Setiawan membacakan satu puisi di salah satu jembatan.
Meski pembacaan tersebut tak ditonton oleh ratusan pengunjung, namun mereka merasa senang membaca puisi di alam bebas dengan hamparan keindahan kebun teh dan kabut menyelubungi. Semua puisi yang mereka bawakan diambil dari antoloji puisi Ngranggèh Katuranggan.
Atmo Tan Sidik beralasan, kenapa pembacaan puisi mereka tak mau dilakukan di atas pentas, baginya bukan mau cari sensasi namun ingin memburu udara bersih di tengah indahnya puncak perbuktian. “Baca puisi di kebun teh, selain misi bali desa mbangun desa, sekaligus memburu udara bersih,” katanya.
Usai pembacaan, Atmo menghadiahkan buku Ngranggèh Katuranggan kepada Bagian Operasional Agro Wisata, Marjono dan beberapa karyawan setempat serta pihak sponsor yang menyelenggarakan acara pesta rakyat.sumber : begawantegal.blogspot.com
Ketika panitia mempersilakan mereka untuk naik panggung membacakan puisi, ketiganya menolak. Mereka bersepakat melakukan aksi pembacaannya bukan di atas pentas melainkan memilih tempat lain. Mereka kemudian diangkut menggunakan mobil, menuju perkebunan teh pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan air laut yang dilarbelakangi panorama hijau berbalut halimun. Di tengah perjalanan, budayawan pantura Atmo Tan Sidik meminta mobil berhenti. Kabut putih menderas mengepung kawasan perbukitan. Atmo turun dan melangkah berbaur dengan para pemetik teh yang bercaping. Tak lama, dari mulutnya meluncur bait-bait puisi Nranggèh Katuranggan karya Wakil Walikota Tegal, Dr. Maufur. Mendengar ada orang membaca puisi, para pemetik teh sejenak menghentikan kegiatan.
“Ada apa sih mas? Kok berteriak di kebun teh?” tanya seorang pemetik.
“Baca puisi, syair bu,” bu Yayu, staf dari Dishubkominfo yang turut dalam perjalanan budaya itu menjelaskan. Para pemetik teh baru menyadari. Tapi agaknya rona wajah mereka berseri-seri melihat orang kota bersyair.
Lain lagi yang dilakukan oleh Bayu Setiawan. Dia memilih melakukan pembacaan puisinya bukan di hamparan kebun teh, melainkan di antara derasnya pancuran Tuk Bening. Kami terpaksa mendaki lebih jauh lagi dengan jalan berkelok-kelok namun keindahan obyek wisata Kaligula mengepung. Selepas mata memandang kehijauan dan kabut menutup lembah bagai lautan menghampar.
Tepat di antara pancuran Tuk Bening, Bayu melepaskan sepatu dan menggulung celana panjangnya. Dengan tanpa menggunakan teks, dia kemudian membacakan salah satu puisi Tegalan berjudul Ngertia Maring Enyong. Usai pembacaan mereka, kini giliran Agus Siswanto salah satu PNS dari Staf Dishubkominfo. Kali ini, Agus pun tak mau kalah. Dia memilih tempat pembacaan di pintu gerbang masuk Goa Jepang. Pembacaan Agus lebih heboh lagi, karena selain ditonton oleh karyawan dari PTPN IX Kaligula, puluhan anak pelajar SMKN Tonjong yang tengah santai-santai di gazebo, turut bergabung menyaksikan pembacaan Agus membawakan puisi berjudul Sing Nggo Tuku Sing Langka karya Atmo Tan Sidik. Terakhir adalah Begawan Tegalan Lanang Setiawan membacakan satu puisi di salah satu jembatan.
Meski pembacaan tersebut tak ditonton oleh ratusan pengunjung, namun mereka merasa senang membaca puisi di alam bebas dengan hamparan keindahan kebun teh dan kabut menyelubungi. Semua puisi yang mereka bawakan diambil dari antoloji puisi Ngranggèh Katuranggan.
Atmo Tan Sidik beralasan, kenapa pembacaan puisi mereka tak mau dilakukan di atas pentas, baginya bukan mau cari sensasi namun ingin memburu udara bersih di tengah indahnya puncak perbuktian. “Baca puisi di kebun teh, selain misi bali desa mbangun desa, sekaligus memburu udara bersih,” katanya.
Usai pembacaan, Atmo menghadiahkan buku Ngranggèh Katuranggan kepada Bagian Operasional Agro Wisata, Marjono dan beberapa karyawan setempat serta pihak sponsor yang menyelenggarakan acara pesta rakyat.sumber : begawantegal.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)